Wassalam, RSBI

Standar

TEMPO.COJakarta – Mohammad Nuh terpaksa menyimpan dulu rasa penasaran atas pesan pendek yang masuk ke telepon selulernya. Padahal, Selasa pekan lalu itu, Nuh mafhum pengirim pesan, Anna Erliyana, anggota staf ahli bidang hukumnya, pasti menyampaikan kabar penting. Hari itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan ini memang mengirim Anna menghadiri sidang pembacaan putusan Mahkamah Konstitusi.

Nuh rikuh membaca SMS tersebut karena saat itu ia tengah melakukan rapat dengan Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat Agung Laksono. Di hadapan Agung, Menteri Nuh memaparkan rencana perubahan kurikulum sekolah yang telah digodok kementeriannya.

Selanjutnya baca disini.

CARA BELAJAR MATEMATIKA YANG EFEKTIF

Standar

1. Les Privat / atau bertanya ke orang tua dan sebagainya

Bertanya saat sesat di jalan, berati saat ada soal yang tidak mengerti sebaiknya bertanya langsung ke Guru, dan kalau malau coba tanya ke guru les, orang tua, dsb. dengan bertanya kalian bisa langsung dapat mengerjakan soal yang susah tersebut. yang paling bagus lebih baik bertanya ke guru les karena bisanya guru les matematika paling jago dalam soal tersebut.
 
2. memerhatikan cara menselesaikan soal yang diberikan guru
kalau cara berikut menurut saya efektif karena dengan memerhatikan cara menselesaikan soal yang diberikan guru, maka nantinya kita dapat mengerjakan soal-soalnya yang diberikan. ketika guru sedang memberitahu cara menselesaikan soal  tersebut, sebaiknya diperhatikan dan lebih baiknya dicacat di buku tulis.
 
3. Belajar untuk teliti dalam menyelesaikan soal
Teliti sangat dibutuhkan saat mengerjakan matematika, karena salah satu perhitungan, maka hasilnya bisa salah. cara menjadi orang teliti adalah dengan cara terus berlatih soal matematika, oleh karena itu denga  terus berlatih kita dapat mengasah otak dan menjadi orang cermat / teliti
 
4. menganggap matematika adalah pelajaran yang menarik
Saat ada pelajaran yagn disukai pasti nilai kalian bagus, dimikian dengan matematika, maka anggap matematika itu adalah kuis yang menarik. karena itu pelajaran yang menarik, maka pasti kalian punya niat dan ketekunan, dan akhirnya mendapat nilai bagus ^^

5 Belajar latihan soal matematika
Kalau tips ini sangat diperlukan karena semakin lama berlatih, semakin otak juga diasah. cobalah bertalih soal matematika sendiri, bersama orang tua, atau yang efektif saya biasanya berlatih soal matematika bersama guru les

Berikut adalah tips dari saya, dan jika kalian sudah master dalam hal matematika, jangan ‘lah sombong cobalah untuk berbagi pengetahuan dengan teman-teman yang sedang sulit dalam hal matematika.

 

Keunikan Angka Matematika

Standar

2

Bilangan habis di bagi 2 bila angka terakhirnya genap. Misalnya, 512 angka terakhirnya adalah 2 yang merupakan bilangan genap, maka 512 habis di bagi 2.

3

Bilangan habis di bagi 3 bila jumlah angka-angkanya sama dengan hasil kelipatan 3. Misalnya, 531 habis di bagi 3 sebab 5+3+1=9=3×3.

4

Bilangan habis di bagi 4 bila dua angka terakhirnya adalah kelipatan 4. Misalnya, 1932 habis di bagi 4 karena 32=4×8.

5

Bilangan habis di bagi 5 bila angka terakhirnya 5 atau 0.

6

Bilangan habis di bagi 6 bila bilangan tersebut habis di bagi 2 maupun 3.

7

Untuk mengetahui bilangan habis di bagi 7, pisahkan angka-angka ke dalam kelompok mulai dari kanan. Setiap kelompok terdiri dari 3 angka. Mulailah dari kanan dengan +. Tulislah + dan – bergantian di depan tiap-tiap kelompok. Jumlahkan. Bila hasilnya kelipatan 7, maka bilangan tersebut dapat di bagi 7.  Misalnya, 14294863492 habis dibagi tujuh karena -14+294-863+492= -91 = 7 x (-13).

8

Bilangan habis di bagi 8 bila 3 angka terakhirnya merupakan kelipatan 8. Misalnya, 787296 habis di bagi 8 karena 296 = 8×37.

9

Bilangan habis di bagi 9 bila jumlah angka-angkanya merupakan kelipatan 9. Misalnya, 61101882 habis di bagi 9 karena 6+1+1+0+1+8+8+2 = 27 = 9×3.

10

Bilangan habis di bagi 10 bila anka terakhirnya 10 angka terakhirnya 0.

11

Untuk mengetahui bilangan habis di bagi 11, mulailah dari kiri dan jumlahkan angka pertama, ketiga, kelima dan seterusnya. Kemudian jumlahkan angka kedua,  keempat, keenam dan seterusnya. Kurangi jumlah bilangan pertama dengan jumlah bilangan kedua. Bila hasilnya 0 atau 11, berarti bilangan tersebut habis di bagi 11. Misalnya, 1254649 habis di bagi 11 sebab 1+5+6+9= 21, 2+4+4+10.an 21-10 + 11.

12

Bilangan habis di bagi 12 bila bilangan tersebut habis di bagi 3 dan 4.

13

Untuk mengetahui bilangan habis di bagi 13, kelompokkan angka seperti pada bilangan yang habis di bagi 7 dan jumlahkan. Bila hasilnya kelipatan 13, bilangan tersebut habis di bagi 13.

Sumber : 1002 Fakta dan Data, the Diagram Group.

Pendidikan Profesi Guru sebagai Syarat untuk Menjadi Guru (SM-3T Salah Satu Pintu Masuk PPG)

Standar

Tahukah Anda bahwa tidak mudah utk menjadi guru (PNS) saat ini…?! Untuk menjadi guru sekarang ini seorang calon guru dituntut utk mengikuti PPG.
Apa itu PPG…?!

Bagaimana caranya agar seorang calon guru bisa mengikuti PPG?

Ada program SM-3T yang saat ini merupakan kebijakan dalam perekrutan peserta PPG. Jadi agar bisa direkrut utk masuk program PPG seorang calon guru harus ikut program SM-3T lebih dahulu.

Apa itu program SM-3T…?!

Berikut ini tulisan Prof Luthfiyah Nurlaela tentang apa itu PPG. Beliau adalah Guru Besar di UNESA dan juga Direktur SM-3T Unesa.

Silahkan buka link berikut ini :

http://www.kopertis12.or.id/2012/12/28/pendidikan-profesi-guru-sebagai-syarat-untuk-menjadi-guru-sm-3t-salah-satu-pintu-masuk-ppg.html

 

Alat Peraga Matematika

Standar

Ketika Dakon Menjadi Alat Peraga Matematika…

Miratus Solikhah dan Naimatul Badiah, siswi kelas VI SD Negeri Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, memperagakan belajar Matematika dengan dakon, Selasa (23/9). Alat permainan tradisional yang sudah dikombinasi itu dapat digunakan untuk menghitung faktor persekutuan terbesar (FPB) dan kelipatan persekutuan terkecil (KPK).

Setiap kali digelar pelajaran Matematika, para siswa kelas IV, V, dan VI SD Negeri Tuyuhan, Desa Tuyuhan, Kecamatan Pancur, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, selalu siap di kelas. Bahkan mereka antusias.

Mereka tak lagi takut dengan pelajaran Matematika terutama dalam menentukan faktor persekutuan terbesar (FPB) dan soal kelipatan persekutuan terkecil (KPK). Bagian ini menuntut kemampuan seseorang membayangkan sesuatu.

Pembelajaran itu dibuat agar menyenangkan. Pokoknya, yang kalah harus menggendong yang menang loh, ya, kata Miratus Solikah kepada Naimatul Badiah, Selasa (23/9).

Setelah suit, kedua siswi Kelas VI SD Negeri Tuyuhan itu segera memainkan alat permainan tradisional yang disebut dakon itu. Alat itu terbuat dari tripleks sepanjang sekitar 100 sentimeter dan lebar 25 sentimeter.

Di badan tripleks itu terdapat 75 lubang kecil yang terbagi menjadi tiga baris menjadi 25 lubang pada setiap baris. Di atas setiap lubang di barisan teratas dituliskan angka 1-25.

 

Adapun di bawah baris terakhir terdapat tiga lubang besar untuk wadah biji dakon yang biasanya dari biji pohon asem, sawo, dan batu kerikil atau kapur. Lubang-lubang itu terbuat dari bekas wadah agar-agar atau jeli, penganan anak-anak.

Kami menyebut alat peraga itu sebagai dakon FPB dan KPK lantaran alat itu bisa digunakan untuk menghitung bilangan-bilangan itu tanpa membuat deret dan pohon faktor, kata guru SD kelas V SD Negeri Tuyuhan Dwi Kartikasasi di Rembang.

Ia mengatakan, alat peraga itu dibuat Slamet, salah seorang pengajar di SD Tuyuhan. Alat itu bisa dibuat sesuai kebutuhan bilangan yang mau dihitung dengan cara menambah lubang, baik yang memanjang maupun yang membujur.

Cara memainkannya adalah dengan meletakkan biji-biji dakon satu per satu di lubang dakon sesuai dengan kelipatan atau perkalian faktor.

Syaratnya, siswa harus hafal kelipatan dan perkalian yang sudah diajarkan di kelas IV.

Misalnya, untuk menentukan KPK 2 dan 3, siswa harus meletakkan biji dakon sejumlah kelipatan 2 di lubang-lubang baris pertama sesuai nomor lubang dakon dan kelipatan dua, yaitu 2, 4, 6, 8, dan seterusnya.

Saat menjabarkan kelipatan 3, siswa menaruh biji dakon di lubang-lubang baris kedua sesuai nomor lubang dakon dan kelipatan 3, yaitu 3, 6, 9, 12, dan seterusnya.

Dari baris lubang pertama dan kedua, siswa bisa menentukan KPK dengan melihat biji dakon yang letaknya satu kolom atau berada pada nomor lubang dakon yang sama, kata dia.

Miratus Solikah dan Naimatul Badiah mengaku terbantu memahami pelajaran itu. Namun, alat itu masih terbatas lantaran tidak bisa untuk menghitung FPB dan KPK lebih dari 50.

Kalaupun bisa, dakon harus dibuat panjang dengan 50 lubang. Tangan kami jadi tak sampai nanti, kata Solikah sambil tersenyum. Apa pun kekurangannya, setidaknya Slamet telah membuat inovasi demi kemajuan anak didik…. (HENDRIYO WIDI)

Sumber :Kompas

Pendidikan Dalam Agama Islam

Standar

PRINSIP-PRINSIP ISLAM TENTANG PENDIDIKAN

1. Pengertian Pendidikan

  • Istilah pendidikan dalam bahasa Arab dikenal dengan ta’lim, tarbiyah, dan ta’dib. Ta’lim lebih condong pada aspek pengetahuan kognitif, tarbiyah lebih menekankan pada pemeliharaan dan asuhan dengan kasih sayang, dan ta’dib menekankan pada aspek kognitif, afektif, dan psikomotortik.
  • Pendidikan adalah segala usaha yang dilakukan secara sadar oleh si pendidik dalam mengarahkan, membimbing, dan memimpin perkembangan jasmani dan rohani si terdidik menuju terbentuknya kepribadian yang utama.
  • Jadi, pendidikan merupakan langkah-langkah yang di tempuh oleh lembaga pendidikan untuk menjadikan peserta didik menjadi manusia yang berguna, baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Dalam hal ini peran tenaga pendidik sangat mempengaruhi berhasil tidaknya peserta didik karena tenaga didik berperan dalam mengarahkan, membimbing, dan memimpin perkembangan peserta didik baik secara rohani maupun jasmani dalam rangka mencapai tujuan terbentuknya kepribadian peserta didik yang unggul.

2. Dasar-Dasar Pendidikan Islam

Dasar pendidikan Islam yang utama adalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul yang disebut dengan Al-Qur’an dan Hadits.

Firman Allah  dalam Q.S al-Nisa’/4: 59

Artinya :“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul (sunnahnya),  jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”

Jadi, dalam Q.S al-Nisa’/4: 59 manusia harus taat kepada Allah SWT dan Rosulnya serta menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman hidupnya. Dan jika ia mengalami perbedaan pendapat dengan orang lain, orang-orang beriman dianjurkan untuk kembali pada Al-Qur’an dan As-Sunnah. Maksudnya menyelesaikan perbedaan pendapat yang dialami maupun masalah-masalah yang terdapat di hidupnya dengan berpegang pada Al-Qur’an dan juga As-Sunnah. Karena jika manusia taat menjalankan semua perintah serta menjauhi larangan Allah dan Rasulnya serta berpedoman pada Al-Qur’an akan menjadikan kehidupannya baik di dunia maupun di akhirat.

Selain firman Allah di atas, yang menjadi dasar pendidikan adalah dalam Hadist (buku paket ‘Studi Islam’ halaman 269) yang mempunyai arti sebagai berikut :
“Aku tinggalkan padamu dua urusan, sekali-kali kamu tidak akan sesat selama kamu sekalian berpegang teguh kepada keduanya, yaitu Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya” (HR.Malik)

(CD-ROM Hadits Mawsu’ah al-Hadits al-Syarif dalam Kitab Muwatha’Malik no.1395).

Dalam Hadits di atas menerangkan bahwa jika kita sebagai manusia berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits kita tidak akan tersesat di kehidupan dunia maupun akhirat.

3. Batas – batas Pendidikan

Dalam Islam batas – batas pendidikan manusia adalah seumur hidup.Yang dimaksud dengan belajar seumur hidup adalah manusia belajar dari lahir sampai dengan meninggal nanti. Namun, dalam masyarakat kita pada kenyataannya seseorang belajar bermmula dari umur 2-4 tahun (masa kritis) karena pada usia tersebut seseorang sudah mampu menggunakan nalar atau pikirannya walaupun belum mampu menggunakannya dengan baik serta mempunyai ego dan sadar tentang kemampuan dirinya serta mengetahui apa yang ia inginkan. Upaya yang dilakukan anak pada masa kritis merupakan upaya persiapan ke arah pendidikan yang nyata sedangkan upaya yang dilakukan orang tua saat anak masih dalam kandungan merupakan upaya untuk mempengaruhi kejiwaan anak.

Jadi, selama kita masih hidup kita harus memanfaatkan usia kita dengan belajar, belajar, dan belajar. Karena belajar tidak harus di sekolah namun di setiap waktu dan dimanapun temaptnya kita dapat belajar bahkan mungkin dari pengalaman orang lain sekalipun. Intinya dalam Islam belajar harus seumur hidup. Dari saat kita di lahirkan ke dunia sampai kita menutup mata (meninggal).

4. Catur Pusat Pendidikan

Dalam Islam pusat pendiddikan dibagi menjadi 3, yaitu:

a.         Keluarga

Keluarga merupakan pusat pendidikan yang pertama. Karena peserta didik mengetahui tentang kebaikan dan keburukan bermula dari orang tuanya serta lingkungan keluarga.

Keluarga juga merupakan pusat pendidikan yang utama karena yang bertanggung jawab terhadap pendidikan peserta didik adalah orang tua.

b.         Masjid

Dalam pendidikan masjid mempunyai fungsi keagamaan. Yaitu digunakan sebagai tempat sholat, menyiarkan agama Islam, seta ibadah lainnya. Seperti pada anak-anak kecil, di masjid mereka diberikan pengajaran membaca IQRA lalu dilanjutkan dengan membaca Al-Qur’an.

Fungsi masjid yang kedua adalah fungsi social. Fungsi social yang di maksud disini adalah mempererat tali persaudaraan antara umat muslim, belajar agama Islam bersama-sama dengan masyarakat lainnya, menyelesaikan masalah-masalah ataupun kesalahpahaman yang sering terjadi di masyarakat, selain itu masjid dapat digunakan sebagai tempat musyawarah.

c.          Sekolah atau madrasah

Sekolah merupakan lembaga formal yang disediakan bagi peserta didik yang ingin merancang masa depan yang cerah. Sekolah formal dimulai dari PAUD, TK, SD, SMP, SMA/SMK, Perguruan Tinggi (baik Perguruan Tinggi Negeri maupun Swasta). Dalam sekolah ini, peran tenaga pendidik sangat menentukan berhasil tidaknya peserta didik untuk memahami berbagai materi atau berbagai ilmu yang diberikan.

d.         Masyarakat

Masyarakat juga merupakan pusat pendidikan bagi peserta didik. Karena di masyarakat peserta didik dapat belajar secara langsung dari orang-orang di sekitarnya. Dalam masyarakat pendidikan dapat dilakukan dengan cara mengikuti kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat, misalnya kursus-kursus (kursus tilawah) dan latihan-latihan (pelatihan mubaligh/mubalighat, pelatihan khotib, ataupun pelatihan kepemimpinan. Masyarakat merupakan pendidikan non formal.

Untuk mendapatkan hasil yang baik diharapkan pusat-pusat pendidikan di atas dapat bekerja sama sehingga dapat menjadikan peserta didik menjadi manusia yang berkualitas yang berguna bagi dirinya, agamanya, orang lain serta bangsa dan negara.

5. Faktor-Faktor Pendidikan

Menurut para ahli, terdapat lima factor pendidikan, yaitu tujuan, pendidik, peserta didik, alat-alat, dan alam sekitar (milieu) (Zuhairini, dkk., 1993: 22-41). Kelima factor tersebut saling mempengaruhi dan saling berhubungan satu sama lain.

a.         Faktor Tujuan

Mendidik merupakan kegiatan yang berkaitan dengan tujuan dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. Sedangkan tujuan adalah sesuatu yang akan dicapai.

Rumusan-rumusan yang dikemukakan oleh para ahli tentang tujuan pendidikan dalam Islam antara lain:

1)         Ahmad D.Marimba (1989: 39) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah terbentuknya orang yang berkepribadian muslim.

2)         M. Athiyah al-Abrasyi (1974: 15) menyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah manusia yang berakhlak mulia.

3)         Kongres Pendidikan Islam se-Dunia ke-II pada tahun 1980 menetapkan bahwa tujuan pendidikan akhir pendidikan adalah adanya sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah SWT pada tingkat individual, masyarakat, dan tingkat kemanusiaan pada umumnya (dikutip dalam M.Arifin, 1987: 132).

4)         M. Arifin (1987: 133) menyatakan bahwa tujuan akhir pendidikan Islam adalah menanamkan kesadaran pada diri manusia terhadap dirinya sendiri selaku hamba Allah dan kesadaran selaku anggota masyarakat yang harus memiliki rasa tanggung jawab social terhadap pembinaan masyarakatnya serta menanamkan kemampuan manusia untuk mengelola, memanfaatkan alam sekitar ciptaan Allah bagi kepentingan kesejahteraan manusia dan kegiatan ibadah kepada Khalik, pencipta alam itu sendiri.

Dari beberapa rumusan tujuan pendidikan diatas dapat di simpulkan bahwa tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik menjadi siswa yang cerdas dan berbudi luhur. Yang mengetahui tentang fitrah dirinya sebagai makhluk Allah dan juga makhluk social. Karena Allah menciptakan manusia di dunia ini adalah untuk menyembah kepada-Nya (Q.S. al-Dzariyat/51: 56). Sedangkan sebagai makhluk social manusia harus memiliki tanggung jawab terhadap pembinaan alam sekitar serta mampu mengelola dan memanfaatkan semua potensi yang ia miliki untuk menjadikan kehidupan yang lebih baik.

b.            Faktor Pendidik

Pendidik adalah tiap orang yang dengan sengaja mempengaruhi orang lain untuk mencapai manusia yang baik. Mempengaruhi orang lain tidak hanya melalui perkataan saja tetapi juga melalui sikap dan tingkah laku. Sarana untuk mempengaruhi orang lain adalah segala sesuatu yang ada pada diri pendidik ayau segala sesuatu yang dimiliki oleh pendidik.

Macam-macam pendidik :

  1. Pendidik primer atau pendidik utama

Pendidik primer adalah orang tua (bapak dan ibu), sebab dengan kesadaran yang memdalam serta didasari rasa cinta dan kasih sayang yang mendalam mereka mengasuh atau mendidik anaknya dengan penuh tanggung jawab dan kesadaran.

2. Pendidik sekunder atau pendidik kedua

Pendidik sekunder adalah pendidik selain orang tua, diantaranya adalah guru, pengasuh atau wakil-wakil yang diserahi oleh orang tua untuk mengasuh anaknya. Pendidik sekunder tidak kalah pentingnya dalam mengasuh dan mendidik anak.

Sebagai pendidik yang efektif, pendidik harus memiliki tiga komponen :

  1. Kompetensi kepribadian
  2. Kompetensi pengusaan bahan
  3. Kompetensi cara-cara mengajar

Tugas dan tanggung jawab sebagai pendidik antara lain adalah mempersiapkan para peserta didik agar kelak bisa survive hidup di dunia dan di akhirat (menurut Q.S. al-Nisa’/4:9)

c.             Faktor Peserta Didik

Peserta didik adalah orang atau sekelompok orang yang menerimapengarahan dari pendidik. Peserta didik memiliki potensi –potensi yang dibawa sejak lahir yang harus dikembangkan dan dirangsang potensi itu agar berkembang secara maksimal.

d.            Faktor Alat-alat

Alat-alat pendidikan adalah segala sesuatu yang secara langsung membantu terlaksananya tujuan pendidikan.metode dan materi juga termasuk dalam alat-alat pendidikan. Materi adalah bahan-bahan yang harus diberikan/disajikan kepada peserta didik untuk mencapai tujuan pendidikan. Sedangakan metode adalah cara yang dapat digunakan pendidik untuk memberikan/menyajikan materi pendidikan kepada peserta didik.

Materi pendidikan dalam Islam menurut Abdullah Nashih Ulwan :

  1. Pendidikan iman
  2. Pendidikan moral
  3. Pendidikan fisik dan keterampilan
  4. Pendidikan rasio/akal
  5. Pendidikan kejiwaan
  6. Pendidikan social
  7. Pendidikan seksual

Macam metode yang digunakan :

  1. Metode keteladanan
  2. Metode adat kebiasaan
  3. Metode nasehat
  4. Metode cerita/kisah
  5. Metode pengawasan/perhatian
  6. Metode hukuman

e.             Faktor Alam Sekitar

Faktor alam sekitar adalah segala sesuatu yang ada di sekeliling peserta didik. Factor ini sangat mempengaruhi keberhasilan pendidikan baik pengaruh yang positif maupun pengaruh yang negative.

Tiga macam lingkungan yang selalu ada di hadapan peserta didik adalah lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Tidak ada unsure tanggung jawab dari pengaruh lingkungan terhadap peserta didik.oleh karena itu, para pendidik baik pendidik primer maupun sekunder harus peka dan waspada terhadap lingkungan peserta didik.

Pendekatan Berbasis Masalah (PBL)

Standar

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang

Salah satu faktor yang berpangaruh terhadap keberhasilan suatu pelatihan ialah pemilihan metode pelatihan yang tepat. Pemilihan metode tergantung pada tujuan, kemampuan pelatihan atau pengajar, besar kelompok sasaran, waktu pengajaran berlangsung dan fasilitas yang tersedia.

Metode untuk merubah pengetahuan dapat digunakan ceramah, tugas baca, panel dan konseling. Sedangkan untuk merubah sikap dapat digunakan metode curah pendapat, diskusi kelompok, tanya jawab serta pameran. Metode demonstrasi dan bengkel kerja lebih tepat untuk merubah ketrampilan.

Kelemahan dari metode ceramah dan tanya jawab (metode konvensional) ialah timbulnya kecenderungan peserta kepada pelatih(teacher centered). Selain itu metode konvensional juga dapat menimbulkan rutinisme, peserta tidak lagi melihat proses belajar sebagai hal – hal yang menarik, serta lebih mudah untuk dilupakan. Oleh karena itu, perlu metode baru untuk mengurangi kelemahan dari metode konvensional.

Barrows dari McMaster University of Canada menciptakan sebuah metode intruksional yang disebut belajar mandiri dan belajar bertolak dari masalah (selanjutnya disebut sebagai Problem Based Learning).

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian ringkas pada latar belakang diatas maka dapat dirumuskan masalah dalam makalah ini sebagai berikut:

  1. Apakah pengertian Problem Based Learning?
  2. Apa sajakah unsur-unsur dalam Problem Based Learning?
  3. Bagaimana langkah-langkah Problem Based Learning?
  4. Bagaimana contoh pembelajaran menggunakan Problem Based Learning?

C.    Tujuan dan Manfaat

Berdasarkan rumusan masalah yang dijelaskan di atas maka tujuan penulisan makalah ini adalah

  1. membantu siswa mengembangkan ketrampilan berfikir dan ketrampilan pemecahan masalah.
  2. belajar peranan orang dewasa yang otentik dan menjadi pelajar yang mandiri.
  3. memahami pengertian pembelajaran berbasis masalah dalam model pembelajaran.
  4. memperoleh pemahaman yang lebih baik tentang bagaimana siswa belajar dan guru mengajar.

Manfaat penulisan makalah ini adalah:

  1. Bagi penulis, diharapkan dapat lebih memahami konsep Problem Based Learning dalam pembelajaran matematika.
  2. Bagi Pendidik, diharapkan dapat mengetahui konsep Problem Based Learning dalam pembelajaran matematika dan dapat menerapkannya dalam dalam proses pembelajaran.

 

PEMBAHASAN 

A.    Pengertian PBL

Menurut pendapat dari David Bounddan Grahame I Feletti (1997: 37) “problem based learning is a conception of knowledge, understanding, and education profoundly different from the more usual conception underlying subject-based learning”. Berdasarkan pendapat tersebut problem based learning merupakan gambaran dari ilmu pengetahuan, pemahaman, dan pembelajaran yang sangat berbeda dengan pembelajaran subject based learning.

Menurut Bound danFeletti (Barbara, 2001: 6) “The basic principle supporting the concept of PBL is older than formal education itself; learning is initiated by a posed problem, query, or puzzle that the learner want to solve”. Pendapat Bound tersebut jika diterjemahkan mengandung arti bahwa prinsip dasar yang mendukung konsep dari PBL lebih tua dari pendidikan formal itu sendiri. Belajar diprakarsai dengan adanya masalah, pertanyaan, atau permainan puzel yang akan diselesaikan oleh peserta didik sendiri. Metode PBL merupakan bagian dalam pembelajaran kontekstual dimana guru memberikan suatu permasalahan untuk dipecahkan oleh siswa. Atau dengan kata lain pembelajaran yang berbasis pada masalah yang relevan dengan materi yang dipelajari. Guru menjelaskan tujuan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat aktif pemecahan masalah yang dipilih, membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar  yang berhubungan dengan masalah tersebut.

Setelah itu guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah. Membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, model dan berbagi tugas dengan teman. Kegiatan selanjutnya mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang telah dipelajari atau meminta kelompok presentasi hasil kerja.

Menurut Nurhadi (2004: 100) “pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep yang esensial dari materi pelajaran”.  Pengertian pembelajaran berbasis masalah adalah proses kegiatan pembelajaran dengan cara menggunakan atau memunculkan masalah dunia nyata sebagai bahan pemikiran bagi siswa dalam memecahkan masalah untuk memperoleh pengetahuan dari suatu materi pelajaran.

Barrow dalam (David O Neville, 2007: 2) mengemukakan pendapat mengenai PBLyaitu:

Instead of promoting a teacher-centered learning environment, PBL places students in the center of the instructional paradigm. This shift in pedagogical focus requires students to take control of their own learning by “identifying what they need to know to better understand and manage the problem on which they are working and determining where they will get that information

Barrow berpendapat bahwa PBL dapat menjadikan pembelajaran berpusat pada siswa. Dengan menerapkan metode PBL siswa dapat mengontrol sendiri proses pembelajarannya. Siswa dapat mengidentifikasi apa yang mereka ingin pelajari, mengendalikan masalah yang muncul dan bagaimana mencari sumberi informasinya.

 B.     Unsur-Unsur PBL

PBL memiliki unsur-unsur mendasar dalam pola pendidikannya :

1. Integrated Learning

–        Pembelajaran mengintegrasikan seluruh bidang pelajaran

–        Pembelajaran bersifat menyeluruh melibatkan aspek-aspek perkembangan anak

–        Anak membangun pemikiran melalui pengalaman langsung

2. Contextual Learning

–        Anak belajar sesuatu yang nyata, terjadi, dan dialami dalam kehidupannya

–        Anak merasakan langsung manfaat belajar untuk kehidupannya

3. Constructivist Learning

–        Anak membangun pemikirannya melalui pengalaman langsung (hand on experiences)

–        Learning by doing

4. Active Learning

–        Anak sebagai subyek belajar yang aktif menentukan, melakukan, dan mengevaluasi pelajaran (PLAN – DO – REVIEW).

5.  Learning Interesting

–        Pembelajaran lebih menarik dan menyenangkan bagi anak karena anak terlibat menentukan masalah.

 C.    Langkah-Langkah PBL

PBM  berlangsung dalam enam fase, yaitu:

Fase 1: Pengajuan permasalahan. Soal yang diajukan seperti dinyatakan sebelumnya harus tidak terstrktur dengan baik, dalam arti untuk penyelesaiannya diperlukan infoemasi atau data lebih lanjut, memungkinkan banyak cara atau jawaban, dan cukup luas kandungan materinya.

Fase2: Apa yang diketahui diketahui dari permasalahan?  Dalam fase ini setiap anggota akan melihat permasalahan dari segi pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.  Kelompok akan mendiskusikan dan menyepakati batasan-batasan mengenai permasalahan tersebut, serta memilah-memilah isu-isu dan aspek-aspek yang cukup beralasan untuk diselidiki lebih lanjut.  Analisis awal ini harus menghasilkan titik awal untuk penyelidikan dan dapat direvisi apabila suatu asumsi dipertanyakan atau informasi baru muncul kepermukaan.

Fase 3: Apa yang tidak diketahui dari permasalahan?  Disini anggota kelompok akan membuat daftar pertanyaan-pertanyaan atau isu-isu pembelajaran yang harus dijawab untuk menjelas permasalahan.  Dalam fase ini, anggota kelompok akan mengurai permasalahan menjadi komponen-komponen, mendiskusikan implikasinya, mengajukan berbagai penjelasan atau solusi, dan mengembangkan hipotesis kerja.  Kegiatan ini seperti fase “brainstorming” dengan evaluasi; penjelasan atau solusi dicatat. Kelompok perlu merumuskan tujuan pembelajaran, menentukan informasi yang dibutuhkan, dan bagaimana informasi ini diperoleh.

Fase 4: Alternatif Pemecahan.  Dalam fase ini anggota kelompok akan mendiskusikan, mengevaluasi, dan mengorganisir hipotesis dan mengubah hipotesis.  Kelompok akan membuat daftar “Apa yang harus dilakukan?” yang mengarah kepada sumberdaya yang dibutuhkan, orang yang akan dihubungi, artikel yang akan dibaca, dan tindakan yang perlu dilakukan oleh para anggota.  Dalam fase ini anggota kelompok akan menentukan dan mengalokasikan tugas-tugas, mengembangkan rencana untuk mendapatkan informasi yang dibutuhkan.  Informasi tersebut dapat berasal dari dalam kelas, bahan bacaan, buku pelajaran, perpustakaan, perusahaan, video, dan dari seorang pakar tertentu. Bila ada informasi baru, kelompok perlu menganalisa dan mengevaluasi reliabilitas dan kegunaannya untuk penyelesaian permasalahan yang sedang dihadapi.

Fase 5: Laporan dan Presentasi Hasil. Pada fase ini, setiap kelompok akan menulis laporan hasil kerja kelompoknya. Laporan ini memuat hasil kerja kelompok dalam fase-fase  sebelumnya diikuti dengan alasan mengapa suatu alternative dipilih dan uraian tentang alternative tersebut. Pada bagian akhir setiap kelompok menjelaskan konsep yang terkandung dalam permasalahan yang diajukan dan penyelesaian yang merekaajukan. Misalnya, rumus apa yang mereka gunakan. Laporan ini kemudian dipresentasikan dan didiskusikan dihadapan semua siswa.

Fase 6: Pengembangan Materi. Dalam fase ini guru akan mengembangkan materi yang akan dipelajari lebih lanjut dan mendalam dan memfasilitasi pembelajaran berdasarkan konsep-konsep yang diajukan oleh setiap kelompok dalam laporannya.

Dengan memperhatikan kegiatan pada setiap fase, para peserta didik menggunakan banyak waktunya untuk mendiskusikan masalah, merumuskan hipotesis, menentukan fakta yang relevan, mencari informasi, dan mendefinisikan isi pembelajaran itu sendiri. Tidak seperti pembelajaran tradisional, tujuan pembelajaran dalam PBM tidak ditetapkan dimuka. Sebaliknya, setiap anggota kelompok akan bertanggungjawab untuk membangun isi-isu atau tujuan berdasarkan analisa kelompok tentang permasalahan yang diberikan.

D.    Contoh Pembelajaran Berbasis Problem Based Learning

Fase 1: Pengajuan Permasalahan

Seorang ibu dengan seorang puteri usia 7 tahun mendapat tunjangan asuransi sebesar Rp 20.000.000 sehubungan meninggal suaminya.  Bantu ibu tersebut untuk merencanakan penggunaan dan pengalokasian uang tersebut secara maksimal sehingga si anak dapat membiayai puterinya masuk perguruan tinggi dengan kualitas yang baik, UMS misalnya.

Fase 2: Apa yang diketahui?

Setiap kelompok mendiskusikan:

  • Sianak berusia 7 tahun; artinya perlu 4 jenjang pendidikan atau 14 tahun:

–          SD/MI: 6 tahun

–          SMP/MTs: 3 tahun

–          SMA/SMK?MA: 3 tahun

–          PT: 4 tahun

  • Dana yang tersedia adalah Rp20.000.000
  • Pekerjaan ibu tidak ada datanya

Fase 3: Apa yang tidak diketahui?

  • Berapakah biaya pendidikan di masing-masing jenjang?

–          Berapa besar?

–          Dimana info ini dapat diperoleh?

  • Berapakah biaya hidup selama kurun waktu tersebut?

–          Berapa besar?

–          Dimana info ini dapat diperoleh?

  • Apakah dana yang tersedia cukup untuk keperluan itu?

–          Berapa total biaya?

–          Cukupkah?

  • Apakah inflasi akan mempengaruhi dana tersebut?

–          Berapa besar inflasi tahun lalu?

–          Berapa besar inflasi tahun depan?

–          Dimana info ini diperoleh?

  • Dapatkah si ibu berusaha untuk mengelola dana?

–          Apa yang dapat dilakukan?

–          Apakah pengaruhnya terhadap si anak?

–          Apakah pengaruhnya terhadap biaya hidup?

  • Apa yang harus dilakukan dengan dana tersebut?

–          Dagang? Berapa modalnya? Berapa keuntungannya? Dimana dapat diperoleh infonya? Cukupkah untuk biaya pendidikan dan biaya hidup?

–          Deposito? Berapa persen bunganya? Cukupkah untuk biaya pendidikan dan hidup?

  • Apa tugas masing-masing anggota?

Fase 4: Alternatif Pemecahan

  • Usaha apa saja yang dapat dilakukan?
  • Mungkin tidak dilakukan beberapa usaha?
  • Usaha apa yang paling maksimal hasilnya?
  • Apakah usaha yang maksimal tersebut dapat mengganggu kehidupan ibu dan anak?

Fase 5: Laporan dan Presentasi

  • Apa sistematikanya?
  • Apa tugas masing-masing anggota?

Fase 6: Pengembangan Materi dan Pembelajarannya

  • Apa materi utama dari permasalahan ini?
  • Apa materi prasyaratnya?
  • Apa implikasi selanjutnya dari materi ini?

PENUTUP

A.   Kesimpulan

Kesimpulan dari makalah ini adalah:

  1. Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang menggunakan masalah dunia nyata sebagai suatu konteks bagi siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah.
  2. PBL memiliki unsur-unsur mendasar dalam pola pendidikannya :Integrated Learning, Contextual Learning, Constructivist Learning, Active Learning, Learning Interesting
  3. PBM berlangsung dalam enam fase, yaitu:
  • Fase 1 : Pengajuan Permasalahan,
  • Fase 2 : Apa yang diketahui dari permasalahan,
  • Fase 3 : Apa yang tidak diketahui dari permasalahan,
  • Fase 4 : Alternatif Pemecahan,
  • Fase 5 : Laporan dan Presentasi Hasil
  • Fase 6 : Pengembangan Materi

B. Saran

Saran dari makalah ini adalah:

  1. Pendidik sebaiknya menggunakan Pendekatan Berbasis Masalah (PBL) untuk mengembangkan keterampilan berfikir dan keterampilan pemecahan masalah.
  2. Pendidik diharapkan dapat mengetahui konsep Problem Based Learning dalam pembelajaran matematika dan dapat menerapkannya dalam dalam proses pembelajaran.

KUMON

Standar

Kita pasti sudah sering mendengar kata “kumon”. Sebenarnya, apa sih Kumon itu? Kumon adalah metode belajar perseorangan. Level awal untuk setiap siswa Kumon ditentukan secara perseorangan. Siswa mulai dari level yang dapat dikerjakannya sendiri dengan mudah, tanpa kesalahan. Lembar kerjanya telah didesain sedemikian rupa sehingga siswa dapat memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Jika siswa terus belajar dengan kemampuannya sendiri, ia akan mengejar bahan pelajaran yang setara dengan tingkatan kelasnya dan bahkan maju melampauinya.

Kumon diciptakan oleh Almarhum Toru Kumon. Almarhum Toru Kumon mengembangkan bentuk awal Metode Kumon pada 1954 ketika ia menjadi guru matematika SMA. Pada waktu itu, istri Toru Kumon, Teiko, memintanya untuk melihat pelajaran Aritmetika untuk kelas 2SD dari anak tertuanya, Takeshi, karena ia tidak puas dengan hasil ulangannya. mengembangkan bentuk awal Metode Kumon pada 1954 ketika ia menjadi guru matematika SMA. Pada waktu itu, istri Toru Kumon, Teiko, memintanya untuk melihat pelajaran Aritmetika untuk kelas 2SD dari anak tertuanya, Takeshi, karena ia tidak puas dengan hasil ulangannya.

Tujuan Toru Kumon adalah menciptakan sekumpulan soal yang dapat dikerjakan Takeshi secara bertahap secara mandiri, yang memungkinkan ia mengembangkan kemampuannya secara bertahap.

Metode Kumon ini adalah metode pendidikan yang unik, yang tidak menyamaratakan kemampuan masing-masing siswa. Berdasarkan bimbingan perseorangan dan belajar pada tingkatan yang tepat, Kumon ingin mengembangkan kemampuan setiap anak dan memaksimalkan potensinya.

Kumon menghargai nilai dari belajar mandiri. Maka, bimbingan perseorangan adalah salah satu fitur dasar dari Metode Kumon. Kunci dari bimbingan perseorangan adalah belajar pada tingkatan yang tepat, yaitu ketika siswa dapat maju secara mandiri tanpa diajari secara khusus.

Lembar kerja Kumon disusun untuk menumbuhkan sikap belajar mandiri. Lembar kerjanya telah didesain sedemikian rupa sehingga memungkinkan siswa untuk memahami sendiri bagaimana menyelesaikan soalnya. Ketika memasuki topik baru diberikan contoh dan penjelasan yang mendorong siswa untuk mempelajarinya sendiri dan maju dengan kemampuannya sendiri.

Metode Kumon memiliki keistimewaan yaitu:
1. Memulai dari level yang tepat akan menumbuhkan kecintaan belajar
2. Sesuai dengan kemampuan karena sebelum anak belajar ada tes penempatan
3. Maju dengan kemampuan sendiri
4. Bahan pelajaran tersusun atas langkah-langkah kecil (small steps) sehingga memperoleh kemampuan dasar yang kuat untuk mencapai tingkat yang lebih tinggi
5. Lembar kerja Kumon disusun untuk menumbuhkan sikap belajar mandiri
6. Anak mengerjakan soal secara mandiri bertahap dari tingkat yang mudah sampai tingkat yang lebih sulit.
7. Mengembangkan kebiasaan belajar yang baik dan kemampuan belajar mandiri
8. Maju melampaui tingkatan kelas
9. Di Kumon, orangtua memegang peranan yang sangat penting
10.Belajar secara kontinu dengan metode Kumon akan bermanfaat dalam membentuk masa depan anak
Dalam metode ini yang menonjol adalah:
1. Individual Pace yang artinya setiap anak belajar dengan kecepatan masing-masing (tidak seperti di sekolah)
2. Dilegence yang artinya anak di dorong untuk rajin setiap hari mengerjakan konsep yang sama sampai akhirnya menjadi mahir.
 
   Kelebihan metode Kumon:
1. Sesuai dengan kemampuan karena sebelum anak belajar ada tes penempatan sehingga anak tidak merasa tersiksa.
2. Bahan pelajaran tersusun atas langkah-langkah kecil sehingga anak bisa memperoleh kemampuan dasar yang kuat.
3. Anak mengerjakan soal secara mandiri bertahap dari tingkat yang mudah sampai tingkat yang lebih sulit bila mengalami kesulitan bisa melihat buku penyelesaian sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
4. Kumon mengajak anak disiplin
 
 Kelemahan Metode Kumon:
1. Tidak semua siswa dalam satu kelas memiliki kemampuan yang sama.
2. Anak belajar secara perorangan sehingga dimungkinkan tumbuh rasa individualisme.
3. Kedisiplinan kumon kadang membuat anak-anak menjadi tidak kreatif.
 
Dari berbagai Sumber